Home / berita umum / Pemuda di Kediri Rayakan Kemrdekaan RI dengan Main Sepak Bola Api
Kediri, Indonesia. 7th October 2012 -- Some students play Fire Football at the boarding school Lirboyo. -- Fire Football is a soccer game using a fireball from a palm tree soaked in kerosene. Fire Football is found in many Islamic boarding schools in East Java. This tradition is related to Pencak Silat, a traditional Indonesian martial art.

Pemuda di Kediri Rayakan Kemrdekaan RI dengan Main Sepak Bola Api

Pemuda di Kediri Rayakan Kemrdekaan RI dengan Main Sepak Bola Api – Tiada kata terlambat untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan RI. Layaknya yg dijalankan banyak pemuda di Kabupaten Kediri ini. Sambil rayakan kemerdekaan, mereka juga menghidupkan kembali kesenian sepak bola barah.

Selesai berdoa bersama dengan, 1 buah kelapa yg udah di rendam minyak tanah ditempatkan ditengah lapangan untuk lantas dibakar serta siap diperebutkan banyak pemain. Dua team yg mainkan sepak bola barah semasing terdiri atas 5 orang.

Dengan bertelanjang kaki, banyak pemuda ini lantas sama sama berebutan buah kelapa yg udah dibakar, seakan berebutan bola sepak yg biasa dimainkan di lapangan sepak bola.

Banyak pemuda yg turut serta dalam permainan ini sesungguhnya yaitu banyak santri di Pondok Pesantren Al Maruf.

Menurut KH Hafid, tokoh agama serta sesepuh Dusun Juranguluh, Desa Kedawung, ia terasa bersukur dengan apakah yg dijalankan oleh banyak pemuda serta santri Pondok Pesantren Al Maruf sebab masihlah pengen melestarikan budaya kesenian sepak bola barah.

” Dahulu sudah sempat berhenti, kesenian ragam ini tidak tahu sebab apakah, tetapi InsyaAllah mulai tahun ini sepak bola barah kembali digiatkan oleh pemuda serta santri, ” katanya, Minggu (2/9/2018) malam.

Seirama dengan KH Hafid, Nur Chafid Mansyur, pengasuh Pondok pesantren Al Maruf mengakui saat dulu ponpesnya memang punyai kekhususan, utamanya dalam soal olah batin serta kebolehan.

Bisa di buktikan walaupun sepak bola barah telah jarang dimainkan tetapi pemuda serta santri Pondok pesantren Al maruf masihlah berani serta konsisten melestarikan kesenian sepak bola barah sebab jadi etika serta sisi dari Pondok pesantren Al Maruf.

” Berikut ini kekhususan Santri Pondok pesantren Al Maruf, bahkan juga dahulu pondok pesantren ini seringkali dimaksud dengan pondok gemblengan, sebab olah batin serta fisik dan ajaran agamanya, ” terangnya.

Buat pemuda Dusun Juranguluh sendiri, sepak bola barah bukan cuma satu kesenian budaya serta berolahraga, tetapi juga udah jadi salah satunya metode mempersatukan bangsa.

Indra (25) semisalnya, salah satunya pemuda yg mempelopori serta menggerakkan pemuda desa serta santri menyelenggarakan kesenian sepak bola barah mengakui bangga serta suka jadi sisi histori sebab melestarikan sepak bola barah.

Ia gak gentar walau ada beberapa luka pada kaki serta lututnya karena terjatuh serta terbentur kaki lawan. Menurut dia, itu lantaran doa banyak kiai serta persiapan yg mereka melakukan mulai sejak jauh-jauh hari.

” Saya suka serta bangga jadi sisi dari sepak bola barah ini, sebab turut melestarikan budaya serta kesenian bangsa, ditambah lagi dahulu pondok pesantren ini udah jadi saksi histori perjuangan bangsa, ” tegas Indra.

About admin